Rabu, 07 Agustus 2019

Cerpen remaja


Aku Bersamanya

Dewi Marisa....

Itulah nama gadis yang selama ini mengisi khayalku. Aku memang tak pernah mengenalnya. Tapi cukup dengan satu kali tatapan. Berbekas sampai saat ini. Aku masih mengingat, lekuk wajah cantiknya. Yang hingga detik ini tak terlupa. Garis senyumnya sulit untuk dihapus dalam ingatan.

Ia tak lebih seperti bidadari yang kusebut dalam lantunan do’a yang tak sekalipun aku lupa.

Hari ini. Matahari cukup terang. Ia menyinari bumi digelap yang sudah menghilang. Angin masih mengibaskan bajuku. Aku masih duduk menunggu gelincir matahari di ujung  teras yang biasa kutempati untuk memikirkan gadis itu.

Sebelum matahari tergelincir dari garis khatulistiwa langit. Gadis itu datang. Ia memakai baju dengan motif bunga-bunga yang berhias manik-manik. Merah warnanya mampu membuatku tak bisa berkata. Mampu membuatku bungkam, dan mata masih tertuju padanya. Rambut panjangnya menari, terbawa angin mengantar kedatangannya. Ia masih menunduk, tak mengalihkan pandangan sedikitpun. Wajah teduhnya semakin membuat hatikunbergejolak untuk berlari kearahnya. Dengan sekejap, bayangan itu hilang.

Aku bertanya, itukah nyata atau hayalku saja. ia cepat menghilang.

“aduhai, wajah sendu itu masih saja terbayang”. Ucapku.

Malam telah sempurna datang.

Gelap sempurna menyelimuti bumi.

Gadis itu kembali datang, ia menyambutku ketika malam telah sunyi. Ia mengenakan kebaya merah kembali, wangi melati menyerbak darinya. Aku masih tak bisa berkata, ia telah duduk disampingku tepat diatas ranjang kamarku.  Sempurna ia menatap. Ia mengunci pandanganku. Namun ada yang berbeda darinya, ia tak pernah secantik yang aku bayangkan, mata yang teduh itu telah berubah. Aku kembali mengingat penduduk desa, wanita itu telah lama tiada, ia telah lama berpisah dengan alam kita. Ia masih menjelma menjadi dirinya yang dulu masih menunggu pangeran yang telah lama pergi darinya. Ia masih mencarinya sampai saat ini. Namun pangeran itu tak pernah menjemputnya, hingga wanita itu mati dalam keadaan pilu menunggu pangeranya. Namun aku tak pernah menghiraukan kata penduduk setempat. Wanita yang aku cintai ini bukan makhluk sama sepertiku. Namun cintaku telah digenggamnya. Dan untuk saat ini aku berada dalam tipu dayanya yang akan membawaku pergi. Tidak lagi menetap di alamku. Hingga sosok cantik itu merobek cerita hidupku. Semuanya gelap.

15/12/16 al-pend

*Baiq Wahyu Diniyati

Mahasiwi Fakultas Tarbiyah /Pendidikan Bahasa Arab/ Institut Dirosat Islamiyah Prenduan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan

 Perempuan Aku tidak akan menjabarkan siapa makhluk ini Pada hakikatnya ini adalah aku Lalu, Penjagaan terhadap predikat sebagai perempuan a...