Aku Bersamanya
Dewi
Marisa....
Itulah nama
gadis yang selama ini mengisi khayalku. Aku memang tak pernah mengenalnya. Tapi
cukup dengan satu kali tatapan. Berbekas sampai saat ini. Aku masih mengingat,
lekuk wajah cantiknya. Yang hingga detik ini tak terlupa. Garis senyumnya sulit
untuk dihapus dalam ingatan.
Ia tak lebih
seperti bidadari yang kusebut dalam lantunan do’a yang tak sekalipun aku lupa.
Hari ini.
Matahari cukup terang. Ia menyinari bumi digelap yang sudah menghilang. Angin
masih mengibaskan bajuku. Aku masih duduk menunggu gelincir matahari di
ujung teras yang biasa kutempati untuk
memikirkan gadis itu.
Sebelum
matahari tergelincir dari garis khatulistiwa langit. Gadis itu datang. Ia
memakai baju dengan motif bunga-bunga yang berhias manik-manik. Merah warnanya
mampu membuatku tak bisa berkata. Mampu membuatku bungkam, dan mata masih
tertuju padanya. Rambut panjangnya menari, terbawa angin mengantar
kedatangannya. Ia masih menunduk, tak mengalihkan pandangan sedikitpun. Wajah
teduhnya semakin membuat hatikunbergejolak untuk berlari kearahnya. Dengan
sekejap, bayangan itu hilang.
Aku bertanya,
itukah nyata atau hayalku saja. ia cepat menghilang.
“aduhai, wajah
sendu itu masih saja terbayang”. Ucapku.
Malam telah
sempurna datang.
Gelap sempurna
menyelimuti bumi.
Gadis itu
kembali datang, ia menyambutku ketika malam telah sunyi. Ia mengenakan kebaya
merah kembali, wangi melati menyerbak darinya. Aku masih tak bisa berkata, ia
telah duduk disampingku tepat diatas ranjang kamarku. Sempurna ia menatap. Ia mengunci pandanganku.
Namun ada yang berbeda darinya, ia tak pernah secantik yang aku bayangkan, mata
yang teduh itu telah berubah. Aku kembali mengingat penduduk desa, wanita itu
telah lama tiada, ia telah lama berpisah dengan alam kita. Ia masih menjelma
menjadi dirinya yang dulu masih menunggu pangeran yang telah lama pergi
darinya. Ia masih mencarinya sampai saat ini. Namun pangeran itu tak pernah
menjemputnya, hingga wanita itu mati dalam keadaan pilu menunggu pangeranya.
Namun aku tak pernah menghiraukan kata penduduk setempat. Wanita yang aku
cintai ini bukan makhluk sama sepertiku. Namun cintaku telah digenggamnya. Dan
untuk saat ini aku berada dalam tipu dayanya yang akan membawaku pergi. Tidak
lagi menetap di alamku. Hingga sosok cantik itu merobek cerita hidupku.
Semuanya gelap.
15/12/16
al-pend
*Baiq Wahyu
Diniyati
Mahasiwi
Fakultas Tarbiyah /Pendidikan Bahasa Arab/ Institut Dirosat Islamiyah Prenduan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar