BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan Islam merupakan kebutuhan yang
dibutuhkan semua orang, bukan hanya kebutuhan melainkan kewajiban semua orang,
yaitu menjadi seorang pendidik dan orang yang di didik. Sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah “Menuntut ilmu itu
wajib bagi setiap muslim dan muslimat”. Adapun pendidikan dalam dunia
sosial dapat memajukan kehidupan sosial manusia agar lebih bermartabat. Dan
tinggi rendahnya kehidupan manusia itu sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu
pengetahuan.
Sebagaimana
yang telah kita ketahui bahwa hakikat dari pendidkan Islam itu adalah mengarahkan
anak didik untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi lebih
baik lagi dan menjadikan mereka sebagai insan kamil, karena tidak lain tujuan
akhir dari pendidikan itu adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah.
Akan tetapi menurut pandangan salah satu filusuf besar muslim,
Imam Al-Ghazali, pendidikan Islam digambarkan melalui aktivitasnya yang luar
biasa dalam dunia pendidikan. Dasar dari pendidikan Islam adalah menyatukan
konsep ilmu dengan dua energi manusia, yakni ilmu dan hati, karena menurutnya
indra itu banyak menimbulkan keraguan. Maka dari latar belakang di atas,
pemakalah ingin menguraikan tentang bagaimana pendidikan Islam dalam pemikiran
Imam Al-Ghazali.
B.
Rumusan
Masalah
Berangkat
dari latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang akan kami bahas, sebagai berikut:
1.
Bagaimanakah
biografi Imam Al- Ghazali?
2.
Bagaimanakah
pendidikan Islam dalam pemikiran Imam Al- Ghazali?
C.
Tujuan
Tujuan
dari dirumuskannya makalah ini adalah:
1.
Untuk
mengetahui biografi Imam Al- Ghazali
2.
Untuk
mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Imam Al- Ghazali
BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Imam Al-Ghazali
Nama lengkap Al-Ghazali ialah Abu Hamid Ibn
Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi. Ia adalah orang Persia asli yang dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Thusi, Sebuah kota
kecil di Khurasan.[1]
Sebelum ayahnya meninggal dunia, Al- Ghazali dititipkan
kepada seorang sufi (sahabat karibnya). Karena cintanya terhadap ilmu, ayah Al-
Ghazali mewariskan hartanya yang selanjutnya diberikan kepada sufi tersebut untuk
biaya pendidikan al-ghazali. Akan tetapi hal ini tidak berjalan lama. Harta
warisan yang ditinggalkan untuk anak itu habis, sufi yang juga menjalani
kecenderungan hidup sufistik yang sangat sederhana ini tidak mampu memberikan
tambahan nafkah. Maka al-Ghazali diserahkan ke suatu madrasah yang menyediakan
biaya hidup bagi para muridnya. Di madrasah inilah Al-Ghazali bertemu dengan
Yusuf al-Nassaj, seorang guru sufi kenamaan pada saat itu, dan dari sini
pulalah awal perkembangan intelektual dan spiritualnya yang kelak akan
membawanya menjadi ulama terkenal di dunia Islam bahkan mendapat gelar Hujjatul
Islam dan Zain ad-Dîn. Pada usia 33 tahun, Al-Ghazali diangkat menjadi Profesor
di Universitas Nizhamiyah di Baghdad, dan memperoleh kedudukan tertinggi di
dunia ilmu pengetahuan pada masanya..Pada Tahun 448 H Al-Ghazali meninggalkan
segala kemahsyuran yang diperolehnya dan keluar dari lingkaran Nazhamiyah
menuju Baitul Mekkah untuk menunaikan ibadah haji Sepulang dari mekkah,
Al-Ghazali menuju Damaskus dan menetap di kota Damsyik selama sepuluh tahun.[2]
Pada Tahun
499 H, ia mengajar d isekolah Nizhamiyah di Naisabur. Akan tetapi hal tersebut
hanya mampu bertahan 2 tahun pada akhirnya dia kembali ke kota Thus lagi, dan
mendirikan sekolah untuk para fuqahaDikota itulah Al-Ghazali menghembuskan
nafas terakhirnya pada tahun 505 H/111 M tepat diusianya 54 tahun.[3]
B.
Pendidikan
Islam Dalam Pemikiran Imam Al-Ghazali
Al-Ghazali adalah tokoh yang menguasai banyak
bidang ilmu. Ia menegaskan bahwa tinggi-rendahnya kehidupan manusia ditentukan
oleh sifat penguasaan ilmu pengetahuan. Kewajiban utama manusia dalam
pendidikan dan penggalian ilmu pengetahuan adalah tentang Dzat Allah yang Maha
mutlaq. Karena kebenaran ilmu pengetahuan sifatnya nisbi, pertama-tama harus
diketahui tentang kebenaran mutlak yang hanya milik Allah. Pengetahuan dalam
bentuk apapun tidak akan sampai kepada kebenaran mutlak karena ilmu bersumber
dari Maha mutlak, yakni Rabbul ‘alamin. [4]
Al-Ghazali membagi metode perolehan ilmu
menjadi dua, yaitu metode pengajaran manusia (ta’allum insani) dan
metode pengajaran dari Tuhan (ta’allum rabbani). Ta’allum insani
merupakan metode yang biasa dilakukan di sekolah formal dan nonformal, yang
mengandalkan komunikasi interpersonal dan intreaksi sosial. Adapun ta’allum
rabbani merupakan metode pengajaran yang
melibatkan komunikasi manusia dengan Allah. ta’allum rabbani, dengan ta’allum
dan tafakkur. Perbedaan antara ta’allum dengan tafakkur,
yaitu ta’allum cenderung pada proses pembelajaran yang dilakukan secara
lahiriah dan mempontensikan individu juz’i. sedangkan tafakkur lebih bersifat bathiniyah dan
melibatkan nafs kulli (jiwa universal).[5]
Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang
pentingnya pendidikan berkaitan dengan lima aspek, yaitu sebagai berikut:
1.
Pendidikan
dalm aspek kerohanian atau keimanan
2.
Pendidikan
dalam aspek perilaku atau akhlak
3.
Pendidikan
dalam aspek pengembangan akal atau intlektualitas dan kecerdasannya
4.
Pendidikan
dalam aspek socisl-engineering atau rekayasa sosial
5.
Pendidikan
dalam biologis manusia atau kejasmaniahan.[6]
Dalam
pendidikan keimanan, Imam Al-Ghazali melalui Ihya ‘Ulumuddin,
menjelaskan betapa pentingnya pendidikan keimanan ditekankan sejak anak didik
usia dini. Pendidikan ketauhidan berkaitan dengan fitrah manusia. Oleh sebab
itu, pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah sangat besar
sehingga harus memilih dengan baik di mana anak didik itu disekolahkan, agar
kekuatan imannya terus bertambah. Anak didik yang menerima pendidikan aspek
keimanan akan berhati-hati menjalani kehidupan di masyarakat. [7]
Dasar Pendidkan Islam
Bagi Al-Ghazali yang
telah banyak menghabiskan hidup di dalam dunia pendidikan menjabarkan dasar
dari pendidikan islam adalah ”menyatukan konsep ilmu dengan dua energy manusia
yakni akal dan hati, sedangkan indra lebih banyak menimbulkan kebimbangan.
Menurutnya semua ilmu harus berujung pada ilmu yang meyakinkan.[8]
Pendidikan terdiri dari komposisi campuran ilmu akal dan ilmu hati yang
dijadikan satu dalam pendidikan agama sehingga pendidikan ditujukan untuk
mendidik akhlak dan jiwa.
Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan
adalah suasana ideal yang harus diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana
yang ideal akan nampak pada tujuan akhir. Seperti yang telah dikemukakan oleh
Al-Ghazali mengeai tujuan pendidikan ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah
bukan untuk mencari uang atau pekerjaan seperti budaya yang sudah mentradisi di
lubung-lubung niat para penuntut ilmu di zaman ini. Pada hakikatnya “Hasil dari
ilmu sesungguhnya akan mendekatkan manusia kepada Allah, Tuhan pemilik seluruh
alam dan dengan ilmu manusia mendapatkan penghormatan secara naluri” selaras
dengan pendapatnya dapat dijabarkan bahwa tujuan pendidikan terbagi menjadi 2
yakni: [9]
a.
Tujuan
jangka pendek
Tujuan pendidikan jangka panjang ialah pendekatan diri kepada
Allah. Pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju jalur-jalur
pendekatan diri kepada Tuhan pencipta alam. Dapat disimpulkan bahwa semakin
lama seseorang duduk dibangku pendidikan semakin bertambah ilmu pengetahuannya,
maka semakin mendekat kepada Allah.
b.
Tujuan
Jangka Pendek
Menurut Al-Ghazali, tujuan jangka pendek ialah diraihnya profesi
manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Tercapainya kesempurnaan insani
yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
BAB
III
PENUTUP
Nama lengkap dari Imam Al-Ghazali
adalah Abu Hamid Ibn Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi.
Ia adalah orang Persia asli yang dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Thusi,
ia merupakan tokoh yang menguasai banyak bidang ilmu. Ia menegaskan
bahwa tinggi-rendahnya kehidupan manusia ditentukan oleh sifat penguasaan ilmu
pengetahuan. Kewajiban utama manusia dalam pendidikan dan penggalian ilmu
pengetahuan adalah tentang Dzat Allah yang Maha mutlaq. Menurut Pemikiran Imam
Al-Ghazali tentang pentingnya pendidikan berkaitan dengan lima aspek, yaitu
sebagai berikut:
1.
Pendidikan
dalm aspek kerohanian atau keimanan
2.
Pendidikan
dalam aspek perilaku atau akhlak
3.
Pendidikan
dalam aspek pengembangan akal atau intlektualitas dan kecerdasannya
4.
Pendidikan
dalam aspek social-engineering atau rekayasa sosial
5.
Pendidikan
dalam biologis manusia atau kejasmaniahan.
[1] Hasan Basri, Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hal. 219
[2] Sielvy
Romlah, Pemikiran Pendidikan Islam Al-Ghazali, http://renungansyifadzikro.blogspot.com/2016/01/pemikiran-pendidikan-islam-al-ghazali.html,
diakses Senin, 17 September 2018
[3] Abu Hamid Al-Ghazali.
Ihya ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), hal. 3
[4] Hasan Basri, Filsafat
Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hal. 223-224
[5] Ibid,
hal. 224
[7] Ibid, hal.
228
[8] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam (
Jakarta: Buta Aksara, 2004), hal. 155
[9] Sielvy
Romlah, Pemikiran Pendidikan Islam Al-Ghazali, http://renungansyifadzikro.blogspot.com/2016/01/pemikiran-pendidikan-islam-al-ghazali.html,
diakses Senin, 17 September 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar