Kamis, 08 Agustus 2019

Pendidikan Islam Dalam Pemikiran Al-Ghazali


BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

 Pendidikan Islam merupakan kebutuhan yang dibutuhkan semua orang, bukan hanya kebutuhan melainkan kewajiban semua orang, yaitu menjadi seorang pendidik dan orang yang di didik. Sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Rasulullah “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimat”. Adapun pendidikan dalam dunia sosial dapat memajukan kehidupan sosial manusia agar lebih bermartabat. Dan tinggi rendahnya kehidupan manusia itu sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan.

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa hakikat dari pendidkan Islam itu adalah mengarahkan anak didik untuk mengembangkan potensi yang mereka miliki untuk menjadi lebih baik lagi dan menjadikan mereka sebagai insan kamil, karena tidak lain tujuan akhir dari pendidikan itu adalah untuk mengabdikan diri kepada Allah.

Akan tetapi menurut pandangan salah satu filusuf besar muslim, Imam Al-Ghazali, pendidikan Islam digambarkan melalui aktivitasnya yang luar biasa dalam dunia pendidikan. Dasar dari pendidikan Islam adalah menyatukan konsep ilmu dengan dua energi manusia, yakni ilmu dan hati, karena menurutnya indra itu banyak menimbulkan keraguan. Maka dari latar belakang di atas, pemakalah ingin menguraikan tentang bagaimana pendidikan Islam dalam pemikiran Imam Al-Ghazali.

B.     Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas maka rumusan masalah yang akan kami bahas, sebagai berikut:

1.      Bagaimanakah biografi Imam Al- Ghazali?

2.      Bagaimanakah pendidikan Islam dalam pemikiran Imam Al- Ghazali?

C.    Tujuan

Tujuan dari dirumuskannya makalah ini adalah:

1.      Untuk mengetahui biografi Imam Al- Ghazali

2.      Untuk mengetahui pendidikan Islam dalam pemikiran Imam Al- Ghazali


BAB II

            PEMBAHASAN

A.    Biografi Imam Al-Ghazali

Nama lengkap Al-Ghazali ialah Abu Hamid Ibn Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi. Ia adalah orang Persia asli yang dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Thusi, Sebuah kota kecil di Khurasan.[1]

Sebelum ayahnya  meninggal dunia, Al- Ghazali dititipkan kepada seorang sufi (sahabat karibnya). Karena cintanya terhadap ilmu, ayah Al- Ghazali mewariskan hartanya yang selanjutnya diberikan kepada sufi tersebut untuk biaya pendidikan al-ghazali. Akan tetapi hal ini tidak berjalan lama. Harta warisan yang ditinggalkan untuk anak itu habis, sufi yang juga menjalani kecenderungan hidup sufistik yang sangat sederhana ini tidak mampu memberikan tambahan nafkah. Maka al-Ghazali diserahkan ke suatu madrasah yang menyediakan biaya hidup bagi para muridnya. Di madrasah inilah Al-Ghazali bertemu dengan Yusuf al-Nassaj, seorang guru sufi kenamaan pada saat itu, dan dari sini pulalah awal perkembangan intelektual dan spiritualnya yang kelak akan membawanya menjadi ulama terkenal di dunia Islam bahkan mendapat gelar Hujjatul Islam dan Zain ad-Dîn. Pada usia 33 tahun, Al-Ghazali diangkat menjadi Profesor di Universitas Nizhamiyah di Baghdad, dan memperoleh kedudukan tertinggi di dunia ilmu pengetahuan pada masanya..Pada Tahun 448 H Al-Ghazali meninggalkan segala kemahsyuran yang diperolehnya dan keluar dari lingkaran Nazhamiyah menuju Baitul Mekkah untuk menunaikan ibadah haji Sepulang dari mekkah, Al-Ghazali menuju Damaskus dan menetap di kota Damsyik selama sepuluh tahun.[2]

Pada Tahun 499 H, ia mengajar d isekolah Nizhamiyah di Naisabur. Akan tetapi hal tersebut hanya mampu bertahan 2 tahun pada akhirnya dia kembali ke kota Thus lagi, dan mendirikan sekolah untuk para fuqahaDikota itulah Al-Ghazali menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 505 H/111 M tepat diusianya 54 tahun.[3]

B.     Pendidikan Islam Dalam Pemikiran Imam Al-Ghazali

Al-Ghazali adalah tokoh yang menguasai banyak bidang ilmu. Ia menegaskan bahwa tinggi-rendahnya kehidupan manusia ditentukan oleh sifat penguasaan ilmu pengetahuan. Kewajiban utama manusia dalam pendidikan dan penggalian ilmu pengetahuan adalah tentang Dzat Allah yang Maha mutlaq. Karena kebenaran ilmu pengetahuan sifatnya nisbi, pertama-tama harus diketahui tentang kebenaran mutlak yang hanya milik Allah. Pengetahuan dalam bentuk apapun tidak akan sampai kepada kebenaran mutlak karena ilmu bersumber dari Maha mutlak, yakni Rabbul ‘alamin. [4]

Al-Ghazali membagi metode perolehan ilmu menjadi dua, yaitu metode pengajaran manusia (ta’allum insani) dan metode pengajaran dari Tuhan (ta’allum rabbani). Ta’allum insani merupakan metode yang biasa dilakukan di sekolah formal dan nonformal, yang mengandalkan komunikasi interpersonal dan intreaksi sosial. Adapun ta’allum rabbani merupakan metode pengajaran yang melibatkan komunikasi manusia dengan Allah. ta’allum rabbani, dengan ta’allum dan tafakkur. Perbedaan antara ta’allum dengan tafakkur, yaitu ta’allum cenderung pada proses pembelajaran yang dilakukan secara lahiriah dan mempontensikan individu juz’i. sedangkan tafakkur  lebih bersifat bathiniyah dan melibatkan nafs kulli (jiwa universal).[5]

Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang pentingnya pendidikan berkaitan dengan lima aspek, yaitu sebagai berikut:

1.      Pendidikan dalm aspek kerohanian atau keimanan

2.      Pendidikan dalam aspek perilaku atau akhlak

3.      Pendidikan dalam aspek pengembangan akal atau intlektualitas dan kecerdasannya

4.      Pendidikan dalam aspek socisl-engineering atau rekayasa sosial

5.      Pendidikan dalam biologis manusia atau kejasmaniahan.[6]

Dalam pendidikan keimanan, Imam Al-Ghazali melalui Ihya ‘Ulumuddin, menjelaskan betapa pentingnya pendidikan keimanan ditekankan sejak anak didik usia dini. Pendidikan ketauhidan berkaitan dengan fitrah manusia. Oleh sebab itu, pengaruh lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah sangat besar sehingga harus memilih dengan baik di mana anak didik itu disekolahkan, agar kekuatan imannya terus bertambah. Anak didik yang menerima pendidikan aspek keimanan akan berhati-hati menjalani kehidupan di masyarakat. [7]

Dasar Pendidkan Islam

Bagi Al-Ghazali yang telah banyak menghabiskan hidup di dalam dunia pendidikan menjabarkan dasar dari pendidikan islam adalah ”menyatukan konsep ilmu dengan dua energy manusia yakni akal dan hati, sedangkan indra lebih banyak menimbulkan kebimbangan. Menurutnya semua ilmu harus berujung pada ilmu yang meyakinkan.[8] Pendidikan terdiri dari komposisi campuran ilmu akal dan ilmu hati yang dijadikan satu dalam pendidikan agama sehingga pendidikan ditujukan untuk mendidik akhlak dan jiwa.

Tujuan Pendidikan Islam



Tujuan adalah suasana ideal yang harus diwujudkan. Dalam tujuan pendidikan, suasana yang ideal akan nampak pada tujuan akhir. Seperti yang telah dikemukakan oleh Al-Ghazali mengeai tujuan pendidikan ialah untuk mendekatkan diri kepada Allah bukan untuk mencari uang atau pekerjaan seperti budaya yang sudah mentradisi di lubung-lubung niat para penuntut ilmu di zaman ini. Pada hakikatnya “Hasil dari ilmu sesungguhnya akan mendekatkan manusia kepada Allah, Tuhan pemilik seluruh alam dan dengan ilmu manusia mendapatkan penghormatan secara naluri” selaras dengan pendapatnya dapat dijabarkan bahwa tujuan pendidikan terbagi menjadi 2 yakni: [9]

a.      Tujuan jangka pendek

Tujuan pendidikan jangka panjang ialah pendekatan diri kepada Allah. Pendidikan dalam prosesnya harus mengarahkan manusia menuju jalur-jalur pendekatan diri kepada Tuhan pencipta alam. Dapat disimpulkan bahwa semakin lama seseorang duduk dibangku pendidikan semakin bertambah ilmu pengetahuannya, maka semakin mendekat kepada Allah.

b.      Tujuan Jangka Pendek

Menurut Al-Ghazali, tujuan jangka pendek ialah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.



















BAB III

PENUTUP

Nama lengkap dari Imam Al-Ghazali adalah Abu Hamid Ibn Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi. Ia adalah orang Persia asli yang dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di Thusi, ia merupakan tokoh yang menguasai banyak bidang ilmu. Ia menegaskan bahwa tinggi-rendahnya kehidupan manusia ditentukan oleh sifat penguasaan ilmu pengetahuan. Kewajiban utama manusia dalam pendidikan dan penggalian ilmu pengetahuan adalah tentang Dzat Allah yang Maha mutlaq. Menurut Pemikiran Imam Al-Ghazali tentang pentingnya pendidikan berkaitan dengan lima aspek, yaitu sebagai berikut:

1.         Pendidikan dalm aspek kerohanian atau keimanan

2.         Pendidikan dalam aspek perilaku atau akhlak

3.        Pendidikan dalam aspek pengembangan akal atau intlektualitas dan kecerdasannya

4.        Pendidikan dalam aspek social-engineering atau rekayasa sosial

5.        Pendidikan dalam biologis manusia atau kejasmaniahan.





[1] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hal. 219                  
[2] Sielvy Romlah, Pemikiran Pendidikan Islam Al-Ghazali, http://renungansyifadzikro.blogspot.com/2016/01/pemikiran-pendidikan-islam-al-ghazali.html, diakses Senin, 17 September 2018

[3] Abu Hamid Al-Ghazali. Ihya ‘Ulum al-Din (Beirut: Dar al-Fikr, 1991), hal. 3
[4] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hal. 223-224
[5] Ibid, hal. 224
[6] Hasan Basri, Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2017), hal. 228
[7] Ibid, hal. 228
[8] Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam ( Jakarta: Buta Aksara, 2004),  hal. 155

[9] Sielvy Romlah, Pemikiran Pendidikan Islam Al-Ghazali, http://renungansyifadzikro.blogspot.com/2016/01/pemikiran-pendidikan-islam-al-ghazali.html, diakses Senin, 17 September 2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan

 Perempuan Aku tidak akan menjabarkan siapa makhluk ini Pada hakikatnya ini adalah aku Lalu, Penjagaan terhadap predikat sebagai perempuan a...