Bayangan...
“Entah berapa kali, aku membayangi sosokmu yang tersenyum, melambai seakan
mengajakku duduk sekedar untuk bercengkrama. Tapi sekali lagi sosok itu tidak
pernah ada”
Itu hanya ilusi yang kuciptakan sendiri, datang untuk sekedar menghiburku.
Semalam,
setelah aku pulang dari surau, kusempat kan diri pergi ke danau Lara, untuk
sekedar membayangkan apa yang ada di dalam danau ini, sudah ratusan tahun
lamanya danau ini tidak tersentuh manusia, setiap orang mengatakan jika danau
ini merupakan danau keramat yang tidak boleh disinggahi siapapun. Letak danau
ini jauh dari perkampungan. Karena memang danau ini konon bisa-bisa saja
menelan siapapun yang mendekatinya. Entahlah itu hanya mitos belaka atau bukan.
Sampai sejauh ini aku tidak pernah percaya tentang itu. Karena yang aku tahu
danau ini sungguh sangat memberiku ketenangan.
Aku
sering menghabiskan waktuku di danau ini, berharap akan kehidupan untuk menjadi
lebih baik lagi, aku sering bercerita pada danau ini, entah dia mendengar atau
tidak. Setiap keluh kesah ku utarakan padanya, batu batuan kecil yang ada di
pinggir danau sering aku lemparkan ketika aku merasa kesal. Entahlah danau ini
marah atau tidak. Karna nyatanya aku tidak pernah melihat ada kemarahan pada
air tenangnya.
Dua hari yang lalu, laki-laki renta menemuiku, ia
mengajakku untuk segera pulang, hari mulai menjelang malam, langit yang awalnya
kebiru-biruan telah berubah menjadi jingga diujung barat yang masih dengan
siluet senja yang begitu meneduhkan.
Laki-laki renta itu berteriak “ Wahai anak muda, hari
akan segera hilang. Pulanglah!” aku hanya tersenyum menanggapinya. Air jernih
itu seperti mengajakku bicara, sehingga teriakan orang-orang yang melihatku
dipinggiran danau itu sama sekali tidak kudengarkan. Aku membutuhkan air jernih
ini, aku membutuhkannya. Tidak terasa malam sudah datang, aku tertidur diatas
batu pinggiran danau. Tanpa sengaja aku melihat sosok perempuan mengenakan gaun
putih, rambut panjangnya terurai indah, menutupi sebagian punggungnya. Aku
tetap tidak bergerak melihat sosoknya, terlalu indah jika aku gambarkan,
sedikitpun mataku tidak berkedip melihatnya. wajahnya baru terlihat jelas
ketika cahaya purnama membelai lembut wajahnya. “Tuhan aku tidak pernah melihat
perempuan secantik ini”. Ia masih memainkan air berlarian mengejar
kunang-kunang yang tengah menyapa malam. Sesaat setelah itu. Perempuan itu
menatapku, ia tersenyum kearahku, Tidak... dia terlalu indah untuk ku tatap.
Keesokan harinya aku kembali lagi ke danau itu. Untuk
kali ini aku kesini bukan lagi untuk bersua dengannya. Melainkan menanti
perempuan bergaun putih.
Dan sekarang, penantian itu benar-benar datang, Perempuan
itu kembali berlarian.. Mataku kembali tidak bisa berkedip. Dan kali ini ia
datang menghampiriku..
Tidak....
“ Ada apa gerangan kamu menatapku ?” perempuan itu sedang
berada dihadapanku. Aku benar-benar tidak bisa berkata apapun. Seolah mataku
terkunci oleh matanya.
Tidak lama setelah itu, aku seperti bukan berada
ditempatku. Danau itu tidak ada, suara-suara binatang liarpun tidak terdengar
bahkan pohon-pohon liar itu tidak lagi bersuara lagi.
Perempuan itu menghilang.
Ahh tidak...
Aku tidak percaya. Aku melihat tubuhku tengah terkapar di
tepi danau, terkapar tak bernyawa. Bahkan sekarang tengah mengambang ditengah danau
Tuhann... Aku tidak mati. Tapi nyatanya sekarang sekedar
untuk memegang tubuhku saja aku tidak bisa, benda-benda yang berada disekitarku
tidak bisa lagi kusentuh. Sekarang aku bukan lagi Rahman si pemuda penikmat
danau. Melainkan telah menjadi bayang yang menjadi penunggu sang danau.
Perempuan itu tidak pernah ada, Dia hanyalah ilusi yang
kuciptakan sendiri. Dan karenanya aku tidak sadar, ketika aku harus mengahiri
hidupku dengan menenggelamkan diri di danau.
Sungguh menyesal, aku tidak mendengar teriakan orang-orang
yang memanggilku. Aku hanya mendengarkan diri sendiri. Aku menyesal.
10/10/18
Diniyati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar