Pengaruh Pelaksanaan Metode Langsung (At-Thariqoh
Al-Mubasyarah) Terhadap Kemampuan Berkomunikasi (Maharah Kalam)
Santriwati Kelas I B Marhalah Tsanawiyah TMI Putri
Pondok Pesantren
Al-Amien Prenduan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Setiap sesuatu yang dilakukan
secara sadar selalu memiliki tujuan. Jika dikaitkan dengan pendidikan maka
tujuan pendidikan berarti apa yang ingin dicapai dengan pendidikan. Pendidikan
yang merupakan usaha sadar seseorang dalam rangka mentransfer pengalaman,
pengetahuan, kecakapan, dan kemampuan kepada orang lain sudah tentu memiliki
tujuan, yaitu untuk membuat orang yang dididik mampu melakukan fungsi hidupnya
dalam pergaulan bersama dengan sebaik-baiknya.[1]
Dalam upaya mencapai tujuan,
pendidikan memerlukan proses maka salah satu prosesnya adalah pembelajaran.[2]
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak
pendidik selaku pendidik dan belajar dilakukan oleh peserta didik untuk
melakukan perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara
stimulus dan respon. Sedangkan pengajaran berarti usaha guru untuk menciptakan
kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi
interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, termasuk di dalamnya guru,
alat pelajaran dan sebagainya yang disebut proses belajar.[3]
Karna berbicara pendidikan, maka
diantara pendidikan tersebut terdapat pendidikan agama Islam. Pendidikan agama
Islam tidak terlepas dari bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an
dan As-Sunnah. Dan keduanya merupakan pedoman sentral ummat Islam dalam
menjalani kehidupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Yusuf/12: 2 berbunyi:
اِناَّ اَنْزَلْنه قُرْاَناً عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ
تَعْقِلُوْنَ
Yang artinya sesungguhnya Kami
menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.
Bahasa arab mempunyai banyak
kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lain, diantaranya
adanya ada kaidah-kaidah tentang ilmu bahasa arab meliputi nahwu, sharaf,
balaghah dll. Bahasa arab juga bahasa yang paling banyak memiliki abjad yang 28
huruf dengan makharijul huruf yang tidak ada dalam bahasa lain.
Di era globalisasi sekarang ini, yang
serba modern, pendidikan agama Islam dapat menjadi tidak menarik apabila sistem pembelajarannya kurang
bahkan tidak kondusif. Dan dalam pembelajaran menggunakan berbagai macam metode
untuk menarik perhatian anak dalam pembelajaran tersebut. Metode pengajaran
ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik
pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar
sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan metode ini
diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar peserta didiksehubungan dengan
kegiatan mengajar guru.
Dalam realita kehidupan, meskipun
bahasa arab sudah masuk dalam mata pelajaran tersendiri di lembaga-lembaga
pendidikan, Namun pada prakteknya, pembelajaran bahasa arab belumlah seefisien
yang diharapkan, inilah realita kondisi pendidikan agama yang ada di Indonesia.[4] Tak jarang hanya sebagian
kecil dari jumlah siswa yang mampu menyerap, menguasai serta memahami materi
bahasa Arab, apalagi bisa berkomunikasi langsung dengan bahasa Arab itu sendiri.
Demi mencapai tujuan yang diinginkan. Banyak dari pengajar menggunakan berbagai
metode yang terdapat dalam metode pembelajaran bahasa Arab yang setiap
metode-metode tersebut mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapai pada akhir
pembelajaran.
Sebenarnya metode apapun yang
digunakan dalam pengajaran akan bermuara pada pencapaian tujuan pembelajaran.
Adapun tujuan utama pembelajaran bahasa Asing adalah pengembangan kemampuan
peserta didik dalam menggunakan bahasa itu baik lisan maupun tulis. Kemampuan
menggunakan bahasa dalam dunia pembelajaran bahasa disebut keterampilan
berbahasa (maharat al-lugah). Keteram-pilan tersebut ada empat, yaitu
keterampilan menyimak (maharah al-istima'/ listening skill), berbicara (maharah
al-kalam/ speaking skill), membaca (maharah alqira'ah/ reading skill), dan
menulis (maharah al-kitabah/writing skill). Keterampilan menyimak dan membaca
dikategorikan ke dalam keterampilan reseptif (al- maharah a1-istiqbaliyyah/
receptive skill), sedangkan keterampilan berbicara dan menulis dikategorikan ke
dalam keterampilan produktif (al-maharah al intajiyyah/productive skill).[5]
Dalam penelitian ini, peneliti
ingin meneliti tentang metode mubasyarah. Karena metode mubasyarah mempunyai
asumsi bahwa dalam pembelajaran bahasa asing (arab) sama dengan bahasa ibu,
yaitu penggunaan secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan
menyimak dan berbicara. [6]
Thariqoh
Mubasyarah adalah suatu cara menyajikan materi pelajaran bahasa asing di mana
guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar tanpa
menggunakan bahasa peserta didik atau menterjemahkan langsung sehingga terjadi
interaksi langsung antara kedua belah pihak (peserta didik dan pengajar).
Kemudian kalau ditemukan kosa kata yang sulit dimengerti oleh peserta didik
maka guru membahasakannya dengan alat peraga, mendemonstrasikannya atau
menggambarkannya.
Metode ini berorientasi pada
pembentukan ketrampilan pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan
tata bahasa yang fungsional dan berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya,
bak penutur aslinya.[7]
Dalam metode ini, guru menyajikan materi
pelajaran bahasa Arab langsung dengan menggunakan bahasa Arab tersebut, tanpa
menggunakan bahasa anak didik sedikit pun ketika mengajar. Jika ada kosa kata
yang tidak dimengerti peserta didik, maka guru dapat mengartikannya dengan
menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, menggambarkan dan
lain- lain. Metode ini dirasa cukup tepat jika digunakan untuk tujuan maharah
kalam, yang bisa meningkatkan siswa dalam menguasai berbicara dan berkomunikasi
dengan menggunakan bahasa Arab.
Berdasarkan uraian singkat diatas,
peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Metode
Langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) Terhadap Kemampuan Berkomunikasi (Maharah
Kalam) Santriwati Kelas I B Marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren
Al-Amien Prenduan”
B. Rumusan Masalah
Yang dari judul serta latar belakang tersebut, penulis
merumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:
1.
Adakah pengaruh metode langsung
(At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam)
Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien
Prenduan?
2.
Seberapa besar pengaruh metode
langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah
Kalam) Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren
Al-Amien Prenduan?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui pengaruh metode langsung (At-Thariqoh
Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam) Santriwati
Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan
2. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh metode langsung
(At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam)
Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien
Prenduan
[3] Muhammad Makhrus, Metode Mubasyarah, pdf-Adobe Reader
[7] Radliyah Zaenuddin dkk, Metodologi
& Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005), 39-40.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar