Kamis, 08 Agustus 2019

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif


Pengaruh Pelaksanaan Metode Langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) Terhadap Kemampuan Berkomunikasi (Maharah Kalam)
Santriwati Kelas I B Marhalah Tsanawiyah TMI Putri
Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan


BAB I

PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Setiap sesuatu yang dilakukan secara sadar selalu memiliki tujuan. Jika dikaitkan dengan pendidikan maka tujuan pendidikan berarti apa yang ingin dicapai dengan pendidikan. Pendidikan yang merupakan usaha sadar seseorang dalam rangka mentransfer pengalaman, pengetahuan, kecakapan, dan kemampuan kepada orang lain sudah tentu memiliki tujuan, yaitu untuk membuat orang yang dididik mampu melakukan fungsi hidupnya dalam pergaulan bersama dengan sebaik-baiknya.[1]

Dalam upaya mencapai tujuan, pendidikan memerlukan proses maka salah satu prosesnya adalah pembelajaran.[2] Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak pendidik selaku pendidik dan belajar dilakukan oleh peserta didik untuk melakukan perubahan dalam tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Sedangkan pengajaran berarti usaha guru untuk menciptakan kondisi-kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungan, termasuk di dalamnya guru, alat pelajaran dan sebagainya yang disebut proses belajar.[3]

Karna berbicara pendidikan, maka diantara pendidikan tersebut terdapat pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam tidak terlepas dari bahasa Arab. Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan keduanya merupakan pedoman sentral ummat Islam dalam menjalani kehidupan. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Q.S. Yusuf/12: 2 berbunyi:

اِناَّ اَنْزَلْنه قُرْاَناً عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُوْنَ

Yang artinya sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.

Bahasa arab mempunyai banyak kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh bahasa-bahasa lain, diantaranya adanya ada kaidah-kaidah tentang ilmu bahasa arab meliputi nahwu, sharaf, balaghah dll. Bahasa arab juga bahasa yang paling banyak memiliki abjad yang 28 huruf dengan makharijul huruf yang tidak ada dalam bahasa lain.  

Di era globalisasi sekarang ini, yang serba modern, pendidikan agama Islam dapat menjadi tidak menarik apabila sistem pembelajarannya kurang bahkan tidak kondusif. Dan dalam pembelajaran menggunakan berbagai macam metode untuk menarik perhatian anak dalam pembelajaran tersebut. Metode pengajaran ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan peserta didik pada saat berlangsungnya pengajaran. Oleh karena itu, peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses pembelajaran. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar peserta didiksehubungan dengan kegiatan mengajar guru.

Dalam realita kehidupan, meskipun bahasa arab sudah masuk dalam mata pelajaran tersendiri di lembaga-lembaga pendidikan, Namun pada prakteknya, pembelajaran bahasa arab belumlah seefisien yang diharapkan, inilah realita kondisi pendidikan agama yang ada di Indonesia.[4] Tak jarang hanya sebagian kecil dari jumlah siswa yang mampu menyerap, menguasai serta memahami materi bahasa Arab, apalagi bisa berkomunikasi langsung dengan bahasa Arab itu sendiri. Demi mencapai tujuan yang diinginkan. Banyak dari pengajar menggunakan berbagai metode yang terdapat dalam metode pembelajaran bahasa Arab yang setiap metode-metode tersebut mempunyai tujuan khusus yang ingin dicapai pada akhir pembelajaran.

Sebenarnya metode apapun yang digunakan dalam pengajaran akan bermuara pada pencapaian tujuan pembelajaran. Adapun tujuan utama pembelajaran bahasa Asing adalah pengembangan kemampuan peserta didik dalam menggunakan bahasa itu baik lisan maupun tulis. Kemampuan menggunakan bahasa dalam dunia pembelajaran bahasa disebut keterampilan berbahasa (maharat al-lugah). Keteram-pilan tersebut ada empat, yaitu keterampilan menyimak (maharah al-istima'/ listening skill), berbicara (maharah al-kalam/ speaking skill), membaca (maharah alqira'ah/ reading skill), dan menulis (maharah al-kitabah/writing skill). Keterampilan menyimak dan membaca dikategorikan ke dalam keterampilan reseptif (al- maharah a1-istiqbaliyyah/ receptive skill), sedangkan keterampilan berbicara dan menulis dikategorikan ke dalam keterampilan produktif (al-maharah al intajiyyah/productive skill).[5]

Dalam penelitian ini, peneliti ingin meneliti tentang metode mubasyarah. Karena metode mubasyarah mempunyai asumsi bahwa dalam pembelajaran bahasa asing (arab) sama dengan bahasa ibu, yaitu penggunaan secara langsung dan intensif dalam komunikasi, dan dengan menyimak dan berbicara. [6] 

Thariqoh Mubasyarah adalah suatu cara menyajikan materi pelajaran bahasa asing di mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar tanpa menggunakan bahasa peserta didik atau menterjemahkan langsung sehingga terjadi interaksi langsung antara kedua belah pihak (peserta didik dan pengajar). Kemudian kalau ditemukan kosa kata yang sulit dimengerti oleh peserta didik maka guru membahasakannya dengan alat peraga, mendemonstrasikannya atau menggambarkannya.

Metode ini berorientasi pada pembentukan ketrampilan pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa yang fungsional dan berfungsi untuk mengontrol kebenaran ujarannya, bak penutur aslinya.[7]

Dalam metode ini, guru menyajikan materi pelajaran bahasa Arab langsung dengan menggunakan bahasa Arab tersebut, tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikit pun ketika mengajar. Jika ada kosa kata yang tidak dimengerti peserta didik, maka guru dapat mengartikannya dengan menggunakan alat peraga, mendemonstrasikan, menggambarkan dan lain- lain. Metode ini dirasa cukup tepat jika digunakan untuk tujuan maharah kalam, yang bisa meningkatkan siswa dalam menguasai berbicara dan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Arab.  

Berdasarkan uraian singkat diatas, peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul “ Pengaruh Metode Langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) Terhadap Kemampuan Berkomunikasi (Maharah Kalam) Santriwati Kelas I B Marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan”

B.  Rumusan Masalah

Yang dari judul serta latar belakang tersebut, penulis merumuskan permasalahan-permasalahan sebagai berikut:

1.        Adakah pengaruh metode langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam) Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan?

2.        Seberapa besar pengaruh metode langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam) Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan?

C.  Tujuan Penelitian

1.      Untuk mengetahui pengaruh metode langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam) Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan

2.      Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh metode langsung (At-Thariqoh Al-Mubasyarah) terhadap kemampuan berkomunikasi (Maharah Kalam) Santriwati Kelas I B marhalah Tsanawiyah TMI Putri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan



[1]Tri Prasetya, Filsafat Pendidikan untuk IAIN, STAIN, PTAIS, (Bandung: Pustaka Setia, 2002), 13.
[2]Azhar Arsyad, Bahasa Arab dan Metode Pengajarannya (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), 7.
[3] Muhammad Makhrus,  Metode Mubasyarah, pdf-Adobe Reader
[4] M. Thalib. Pembelajaran Bahasa Arab Dengan System cepat, pdf-Adobe Reader
[5] Acep Hermawan, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2011), 129.
[6] Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005),  35.
[7] Radliyah Zaenuddin dkk, Metodologi & Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab  (Yogyakarta: Pustaka Rihlah Group, 2005), 39-40.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan

 Perempuan Aku tidak akan menjabarkan siapa makhluk ini Pada hakikatnya ini adalah aku Lalu, Penjagaan terhadap predikat sebagai perempuan a...