Kamis, 08 Agustus 2019

Makalah Isytirokul Lafdzi/Muystarak al-lafdzi


PEMBAHASAN

A.  Definisi Isytirokul Lafdzi/ Musytarak al-lafdzi

Terdapat dua aliran dalam kajian definisi musytarak al-lafdzi; al-Qudama’ (ilmuan klasik) dan al-Muhdatsin (ilmuan modern).Definisi al-Musytarak al-Lafdzi menurut ilmuan klasik diantaranya dikemukakan oleh:

- Menurut Imam As Suyuti, al-musytarok al-lafdzi  yaitu  suatu lafadz (lafadz yang satu) tapi menunjukkan dua makna yang berbeda.

- Amali, mengatakan bahwa musytarok al-lafdzi yaitu satu lafadz yang mempunyai dua makna yang berbeda atau lebih.[1]

       Sedangkan ilmuan modern, menurut Wâfi, yang dimaksud dengan اشتراك اللفظي  adalah:

للْكَلِمَةِ الْوَاحِدَةِ عِدَّةُ مَعَانٍ تُطْلَقُ عَلىَ كُلّ منْهَا عَلىَ طَرِيْقِ الحَقِيْقَةِ لاَ الْمَجَاز

Artinya: “Satu kata mengandung beberapa arti yang masing-masingnya dapat dipakai sebagai makna yang denotatif (hakikat) dan bukan makna konotatif (majaz).”[2]

Selain itu, Al Mustarok al Lafdzi juga didefinisikan sebagai berikut:

الهومونيمي : عبارة عن كلمات متشابهة في النطق والكتاب ولكنها مختلفة فى الدلالة

Homonim atau dalam bahasa arab diartikan dengan Al Musytarok al Lafdzi merupakan beberapa kata yang sama, baik pelafalan dan penulisannya tetapi mempunyai makna yang berlainan. Ini merupakan pengertian Al Musytarok al Lafdzi secara umum.[3]               

Adapun contoh Al Mustarok al Lafdzi dalam bahasa Arab seperti halnya kata (غرب) dapat bermakna arah barat (الجهرة) dan juga bermakna timba (الدلو). Contoh lain kata (الجد) memiliki tiga makna yaitu(1) bapak dari ayah/ibu (ابو اللأب/ام) (2) bagian, nasib baik (البحث,الحظ) (3) tepi sungai) شاطئ النهر). [4]

Namun perjalanan Al Mustarok al Lafdzi tidak sampai perbedaan pendapat saja, karena dalam prosesnya terdapat tokoh- tokoh yang setuju, juga ada yang tidak menyetujuiakan kehadiran Al Mustarok al Lafdzi,diantaranya Ibnu Durustuwai merupakan tokoh utama yang membantah adanya al-Musytarak al- lafdzi  dalam bahasa. Alasan yang menjadikan ia tidak sependapat dengan tokoh-tokoh yang lain, al-Musytarak al- lafdzi akan menghilangkan ketidak jelasan dalam bahasa dan juga menghilangkan fungsi bahasa sendiri yaitu bahasa sebagai penjelas dalam penyampaian maksud.

B.  Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Adanya al-Musytarok Al- Lafdzi



  Walaupun pada definisinya banyak berdebadan atau berpedaan prinsip, namun dalam menentukan penyeban adanya Al Mustarok al Lafdzi mempunyai kesamaan.  Terdapat enam faktor penyebab adanya Al Mustarok al Lafdzi.[5]

1.         Perbedaan Dialek (إختلاف اللهجات)

                        Perkembangan Al Mustarok al Lafdzi itu tidak terlepas dari perbedaan dialek, setiap dialek satu daerah itu berbeda arti. Penggunaan makna kata yang digunakan antar kobilah mempunyai batasan-batasan makna yang berbeda. hal inilah yang menyebabkan dialek yang digunakan mempunyai perbedaan makna, walaupun kata yang digunakan sama.

Contoh kata السَيْد  secara umum artinya الذِئب  (serigala) tetapi dalam kobilah hudzail ber arti  الأسَد (singa), kata الضَنا secara umum artinya المرِض (sakit) tetapi dalam kobilah toyyi’ artinya الوَلد (anak)

2.    Penggunaan Majaz (الإستعمال المجازى)

Menurut banyak tokoh klasik dan modern pengaruh yang dominan dalam homonim adalah penggunaan majaz. Hal ini karena adanya penggunaan makna hakiki (asli) kemudian beralih ke makna majaz. Artinya dalam majaz tidak mungkin penggunaan satu kata dan mempunyai satu arti saja, pasti mempunyai banyak arti.

Contoh kata المَسّ makna aslinya مسّ الشئ باليد  (menyentuh dengan tangan) dan dalam makna majaz) الجنون(gila)lquran surat Al-Baqarah ayat 237;

  bÎ)ur £`èdqßJçFø)¯=sÛ `ÏB È@ö6s% br& £`èdq¡yJs?

Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka,

šúïÏ%©!$# tbqè=à2ù'tƒ (#4qt/Ìh9$# Ÿw tbqãBqà)tƒ žwÎ) $yJx. ãPqà)tƒ Ï%©!$# çmäܬ6ytFtƒ ßsÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# ..4ÇËÐÎÈ 

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.

3. Kaidah Shorrof (القواعد الصرفية)

     Perkembangan Al Mustarok al Lafdzi dari sisi kaidah sorrof itu menghasilkan perbedaan maksud dalam satu kata, menghasilkan persamaan ucapan pada Isim dan Fiil, menghasilkan persamaan dalam bentuk jamak dan masdar, dan sebagainya. Hal ini diutarakan oleh para tokoh klasik.

Contoh : kata هوى  dari bentuk isim dan fiil menurut firus abadi berarti ميل النفس إلى الشهوة (mengalirnya hawa nafsu). Hal ini dikuatkan dalam ayat  26 Qur’an surat shof.

!$# @‹Î6y `tã 3y7¯=ÅÒãŠsù Æ uqygø9$# ìÎ7®Ks? wur

“dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”

Tetapi disisi lain ا لهوى  artinya العشق (Rindu)  المحبة (Kecintaan)  إرادة النفس (keinginan nafsu)

4. Bercampurnya Bahasa Lain (الإ قتراض من اللغات الأخرى)

Yang dimaksud, yaitu mengambilnya bahasa asli dari bahasa lain melihat kesesuaian bentuk kata dan pengucapannya. Sehingga menjadi satu kata yang mempunyai dua makna yang berbeda. Prosesnya yakni masuknya arti bahasa asing kedalam bahasa asli.

Contoh kata كلية  awalnya berarti kegiatan belajar mengajar yang ada di kampus, tetapi terpengaruh dengan bahasa inggris dimana kata كلية berarti جزء من الجامعة sehingga kata كلية berarti fakultas (college).

5.  Perkembangan Bahasa (التطور اللغوى)

Dalam hal ini, seperti para tokoh klasik mengutarakan homonim itu dihasilkan dari perubahan bahasa itu sendiri karena terjadinya perubahan  pada fonologi dan semantik. Perubahan fonologi terjadi karena adanya kemiripan dengan kata lain yang mempunyai arti yang berbeda, sehingga dirubah untuk menghasilkan satu kata yang mempunyai dua arti atau lebih.

Contoh kata الفَرْوَة asalnya kata الثَوْرَة  dan hasilnya mempunyai 2 arti, yakni جلد الراس (kulit kepala) dan الغنى (kaya).
6. Konteks Dalam Pembatasan Makna Homonim (السياق فى تحديد دلالة المشترك)

       Peringatan dari tokoh kontemporer dan klasik dalam pemaknaan kata, untuk menyesuaikan kondisi kata, serta menklasifikasi beberapa makna yang tidak terbatas dan tidak jelas, hal ini dapat dicapai dengan adanya pemaknaan sesuai konteks. Pembatasan makna juga dapat digunakan untuk menentukan posisi makna terdahulu dan terkini.

Contoh pembatasan makna dalam perbedaan konteks; kata الباطل mempunyai arti إفساد الشئ (rusaknya sesuatu) dan إزالته حقا (hilangnya kebenaran)

@ÏÜ»t7ø9$#@ÏÜö7ãƒur ,ÅsãŠÏ9 ¨,ysø9$#   

” agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil”

cqè=ÏÜö6ßJø9$#>$s?ö^w #]ŒÎ)

”andaikata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari”

C.  Dampak Al-Musytarok Al- Lafdzi

Seperti halnya, sinonim, antonim, dan sebagainya. Homonim atau al-Musytarak al- lafdzi mempunyai dampak dalam bahasa. Terdapat kesepakatan anatara tokoh klasik dan modern dalam menyimpulkan dampak positif dan negatif. [6]


1)      Dampak positif

a.        Hadirnya al-Musytarak al-lafdzi  dalam bahasa menimbulkan rasa fleksibel dan elastis dalam penggunaan makna baru tanpa harus menghilangkan makna yang lama.

b.         Al-Musytarak al-lafdzi  akan menghadirkan nilai tersendiri untuk menyamarkan makna bahasa dalam unsur bahasa dan balagah.

c.       Al-Musytarak al- lafdzi juga dapat memberikan pengaruh dalam jiwa ketika mendapat faktor majazi, karena hal ini akan memberikan unsur lebih dalam estetika sehingga dapat menjadikan orang tercengang.

d.       Menutupi kekosongan dalam kamus merupakan dampak positif yang lain, hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari khusunya ketika dalam menggunakan bahasa Arab.

2)     Dampak negatif

Beriringan dengan datangnya dampak positif, hadir pula dampak negatif. Diantara dampak negatif al-Musytarak al- lafdzi :

a.       Dalam bahasa Arab kehadiran al-Musytarak al- lafdzi akan mengurangi kefasihan. Seperti kurangnya ketajaman makna yang dimaksud karena pendengar tidak jelas dalam mendengar kata yang diutarakan.

b.       Kehawatiran akan terjadinya perselisihan karena adanya perpindahan makna pertama ke makna yang kedua.

c.       Sulitnya transformasi makna melalui terjemah ringkasan, dan sebaginya.

d.       Ketergantungan dengan konteks, hal ini karena konteks merupakan faktor penentu sebuah makna dalam bahasa.




DAFTAR PUSTAKA

Abdul al-Wahid Wafi. Ali. Fiqhu al-Lugah. 1966. Kairo: Lajnah al-Bayân Al-Arabiyah

Musthofa, Tulus. Al Mustarok al Lafdzi dalam Al Qura’an. pdf

Muhammad Abdul Majid Khodhar At Takdim. Mustofa. al fadz wa dilalah fi bitoiridhi at tamyizi fi latoifi al kitab al aziz lilfiri wa zaabadi. pdf.

Mukhtar Umar. Ahmad. ‘Ilm al-Dilalah. 1988. Kuwait: Maktabah Dar al-Arabiyah li al-Nasr wa al-Tauzi. pdf

Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab. Malang : Uin Malang Press





[1] Ahmad Mukhtar Umar, ‘Ilm al-Dilalah, (Kuwait: Maktabah Dar al-Arabiyah li al-Nasr wa al-Tauzi, 1988)  hal. 158. pdf
[2] Ali Abd. al-Wahid Wafi, Fiqhu al-Lugah, (Kairo: Lajnah al-Bayân Al-Arabiyah, 1966), hal. 183
[3] Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab, (Malang : Uin Malang Press, tt,)  hal. 67.
[4] Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab,… hal. 68.
[5] Mustofa Muhammad Abdul Majid Khodhar At Takdim, al fadz wa dilalah fi bitoiridhi at tamyizi fi latoifi al kitab al aziz lilfiri wa zaabadi, hal. 374-380 pdf.

[6] Tulus Musthofa, Al Mustarok al Lafdzi dalam Al Qura’an. hal. 116-120, pdf  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan

 Perempuan Aku tidak akan menjabarkan siapa makhluk ini Pada hakikatnya ini adalah aku Lalu, Penjagaan terhadap predikat sebagai perempuan a...