PEMBAHASAN
A. Definisi Isytirokul Lafdzi/ Musytarak al-lafdzi
Terdapat dua aliran
dalam kajian definisi musytarak al-lafdzi; al-Qudama’ (ilmuan klasik) dan
al-Muhdatsin (ilmuan modern).Definisi al-Musytarak al-Lafdzi menurut ilmuan
klasik diantaranya dikemukakan oleh:
- Menurut Imam As
Suyuti, al-musytarok al-lafdzi
yaitu suatu lafadz (lafadz yang
satu) tapi menunjukkan dua makna yang berbeda.
- Amali, mengatakan
bahwa musytarok al-lafdzi yaitu satu lafadz yang mempunyai dua makna yang
berbeda atau lebih.[1]
Sedangkan ilmuan modern, menurut Wâfi, yang dimaksud dengan اشتراك اللفظي adalah:
للْكَلِمَةِ الْوَاحِدَةِ عِدَّةُ مَعَانٍ تُطْلَقُ عَلىَ
كُلّ منْهَا عَلىَ طَرِيْقِ الحَقِيْقَةِ لاَ الْمَجَاز
Artinya: “Satu kata
mengandung beberapa arti yang masing-masingnya dapat dipakai sebagai makna yang
denotatif (hakikat) dan bukan makna konotatif (majaz).”[2]
Selain itu, Al Mustarok
al Lafdzi juga didefinisikan sebagai berikut:
الهومونيمي : عبارة عن كلمات متشابهة في النطق والكتاب
ولكنها مختلفة فى الدلالة
Homonim atau dalam
bahasa arab diartikan dengan Al Musytarok al Lafdzi merupakan beberapa kata
yang sama, baik pelafalan dan penulisannya tetapi mempunyai makna yang berlainan.
Ini merupakan pengertian Al Musytarok al Lafdzi secara umum.[3]
Adapun contoh Al
Mustarok al Lafdzi dalam bahasa Arab seperti halnya kata (غرب) dapat
bermakna arah barat (الجهرة) dan juga bermakna timba (الدلو). Contoh
lain kata (الجد) memiliki tiga makna yaitu(1) bapak dari ayah/ibu (ابو اللأب/ام) (2) bagian,
nasib baik (البحث,الحظ) (3) tepi sungai) شاطئ النهر). [4]
Namun perjalanan Al Mustarok al Lafdzi tidak sampai
perbedaan pendapat saja, karena dalam prosesnya terdapat tokoh- tokoh yang
setuju, juga ada yang tidak menyetujuiakan kehadiran Al Mustarok al
Lafdzi,diantaranya Ibnu Durustuwai merupakan tokoh utama yang membantah adanya
al-Musytarak al- lafdzi dalam bahasa.
Alasan yang menjadikan ia tidak sependapat dengan tokoh-tokoh yang lain,
al-Musytarak al- lafdzi akan menghilangkan ketidak jelasan dalam bahasa dan
juga menghilangkan fungsi bahasa sendiri yaitu bahasa sebagai penjelas dalam
penyampaian maksud.
B. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Adanya al-Musytarok Al- Lafdzi
Walaupun
pada definisinya banyak berdebadan atau berpedaan prinsip, namun dalam
menentukan penyeban adanya Al Mustarok al Lafdzi mempunyai kesamaan. Terdapat enam faktor penyebab adanya Al
Mustarok al Lafdzi.[5]
1.
Perbedaan Dialek (إختلاف اللهجات)
Perkembangan
Al Mustarok al Lafdzi itu tidak terlepas dari perbedaan dialek, setiap dialek
satu daerah itu berbeda arti. Penggunaan makna kata yang digunakan antar
kobilah mempunyai batasan-batasan makna yang berbeda. hal inilah yang
menyebabkan dialek yang digunakan mempunyai perbedaan makna, walaupun kata yang
digunakan sama.
Contoh kata السَيْد secara umum artinya الذِئب (serigala) tetapi dalam kobilah hudzail ber
arti الأسَد (singa),
kata الضَنا secara umum artinya المرِض (sakit)
tetapi dalam kobilah toyyi’ artinya الوَلد (anak)
2. Penggunaan Majaz (الإستعمال المجازى)
Menurut banyak tokoh klasik dan modern pengaruh yang
dominan dalam homonim adalah penggunaan majaz. Hal ini karena adanya penggunaan
makna hakiki (asli) kemudian beralih ke makna majaz. Artinya dalam majaz tidak
mungkin penggunaan satu kata dan mempunyai satu arti saja, pasti mempunyai
banyak arti.
Contoh kata المَسّ makna
aslinya مسّ الشئ باليد (menyentuh dengan
tangan) dan dalam makna majaz) الجنون(gila)lquran
surat Al-Baqarah ayat 237;
bÎ)ur £`èdqßJçFø)¯=sÛ `ÏB È@ö6s% br& £`èdq¡yJs?
Jika kamu menceraikan
isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka,
úïÏ%©!$# tbqè=à2ù't (#4qt/Ìh9$# w tbqãBqà)t wÎ) $yJx. ãPqà)t Ï%©!$# çmäܬ6ytFt ß`»sÜø¤±9$# z`ÏB Äb§yJø9$# ..4ÇËÐÎÈ
Orang-orang yang makan
(mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang
kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.
3. Kaidah Shorrof (القواعد الصرفية)
Perkembangan
Al Mustarok al Lafdzi dari sisi kaidah sorrof itu menghasilkan perbedaan maksud
dalam satu kata, menghasilkan persamaan ucapan pada Isim dan Fiil, menghasilkan
persamaan dalam bentuk jamak dan masdar, dan sebagainya. Hal ini diutarakan
oleh para tokoh klasik.
Contoh : kata هوى dari bentuk isim dan fiil menurut firus abadi
berarti ميل النفس إلى الشهوة (mengalirnya
hawa nafsu). Hal ini dikuatkan dalam ayat
26 Qur’an surat shof.
!$# @Î6y `tã 3y7¯=ÅÒãsù Æ uqygø9$# ìÎ7®Ks? wur
“dan janganlah kamu
mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”
Tetapi disisi lain ا لهوى artinya العشق
(Rindu) المحبة (Kecintaan) إرادة النفس (keinginan nafsu)
4. Bercampurnya Bahasa
Lain (الإ قتراض من اللغات الأخرى)
Yang dimaksud, yaitu mengambilnya bahasa asli dari
bahasa lain melihat kesesuaian bentuk kata dan pengucapannya. Sehingga menjadi
satu kata yang mempunyai dua makna yang berbeda. Prosesnya yakni masuknya arti
bahasa asing kedalam bahasa asli.
Contoh kata كلية awalnya berarti kegiatan belajar mengajar
yang ada di kampus, tetapi terpengaruh dengan bahasa inggris dimana kata كلية berarti جزء من الجامعة sehingga
kata كلية berarti fakultas (college).
5. Perkembangan
Bahasa (التطور اللغوى)
Dalam hal ini, seperti para tokoh klasik
mengutarakan homonim itu dihasilkan dari perubahan bahasa itu sendiri karena
terjadinya perubahan pada fonologi dan
semantik. Perubahan fonologi terjadi karena adanya kemiripan dengan kata lain
yang mempunyai arti yang berbeda, sehingga dirubah untuk menghasilkan satu kata
yang mempunyai dua arti atau lebih.
Contoh kata الفَرْوَة asalnya
kata الثَوْرَة dan hasilnya mempunyai 2
arti, yakni جلد الراس (kulit kepala) dan الغنى (kaya).
6. Konteks Dalam
Pembatasan Makna Homonim (السياق فى تحديد دلالة المشترك)
Peringatan
dari tokoh kontemporer dan klasik dalam pemaknaan kata, untuk menyesuaikan
kondisi kata, serta menklasifikasi beberapa makna yang tidak terbatas dan tidak
jelas, hal ini dapat dicapai dengan adanya pemaknaan sesuai konteks. Pembatasan
makna juga dapat digunakan untuk menentukan posisi makna terdahulu dan terkini.
Contoh pembatasan makna dalam perbedaan konteks;
kata الباطل mempunyai arti إفساد الشئ
(rusaknya sesuatu) dan إزالته حقا (hilangnya
kebenaran)
@ÏÜ»t7ø9$#@ÏÜö7ãur ,ÅsãÏ9 ¨,ysø9$#
” agar Allah menetapkan
yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil”
cqè=ÏÜö6ßJø9$#>$s?ö^w #]Î)
”andaikata (kamu pernah
membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari”
C. Dampak Al-Musytarok Al- Lafdzi
Seperti halnya, sinonim, antonim, dan sebagainya. Homonim
atau al-Musytarak al- lafdzi mempunyai dampak dalam bahasa.
Terdapat kesepakatan anatara tokoh klasik dan modern dalam menyimpulkan dampak
positif dan negatif. [6]
1) Dampak positif
a.
Hadirnya al-Musytarak al-lafdzi dalam
bahasa menimbulkan rasa fleksibel dan elastis dalam penggunaan makna baru tanpa
harus menghilangkan makna yang lama.
b.
Al-Musytarak al-lafdzi akan menghadirkan nilai
tersendiri untuk menyamarkan makna bahasa dalam unsur bahasa dan balagah.
c.
Al-Musytarak al- lafdzi juga dapat memberikan pengaruh dalam
jiwa ketika mendapat faktor majazi, karena hal ini akan memberikan
unsur lebih dalam estetika sehingga dapat menjadikan orang tercengang.
d.
Menutupi kekosongan dalam kamus merupakan dampak positif
yang lain, hal ini sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari khusunya ketika
dalam menggunakan bahasa Arab.
2) Dampak negatif
Beriringan dengan datangnya dampak positif, hadir pula dampak negatif.
Diantara dampak negatif al-Musytarak al- lafdzi :
a.
Dalam bahasa Arab kehadiran al-Musytarak
al- lafdzi akan mengurangi kefasihan. Seperti kurangnya ketajaman
makna yang dimaksud karena pendengar tidak jelas dalam mendengar kata yang
diutarakan.
b. Kehawatiran akan terjadinya perselisihan karena adanya
perpindahan makna pertama ke makna yang kedua.
c. Sulitnya transformasi makna melalui terjemah ringkasan, dan sebaginya.
d. Ketergantungan dengan konteks, hal ini karena konteks merupakan
faktor penentu sebuah makna dalam bahasa.
DAFTAR PUSTAKA
Abdul
al-Wahid Wafi. Ali. Fiqhu al-Lugah. 1966. Kairo: Lajnah al-Bayân
Al-Arabiyah
Musthofa, Tulus. Al Mustarok al
Lafdzi dalam Al Qura’an. pdf
Muhammad Abdul
Majid Khodhar At Takdim. Mustofa. al fadz wa dilalah fi bitoiridhi at
tamyizi fi latoifi al kitab al aziz lilfiri wa zaabadi. pdf.
Mukhtar
Umar. Ahmad. ‘Ilm al-Dilalah. 1988. Kuwait: Maktabah Dar
al-Arabiyah li al-Nasr wa al-Tauzi. pdf
Taufiqurrochman, Leksikologi Bahasa Arab. Malang : Uin Malang
Press
[1] Ahmad Mukhtar Umar, ‘Ilm
al-Dilalah, (Kuwait: Maktabah Dar al-Arabiyah li al-Nasr wa al-Tauzi, 1988) hal. 158. pdf
[2] Ali Abd. al-Wahid Wafi, Fiqhu
al-Lugah, (Kairo: Lajnah al-Bayân Al-Arabiyah, 1966), hal. 183
[5] Mustofa
Muhammad Abdul Majid Khodhar At Takdim, al fadz wa dilalah fi
bitoiridhi at tamyizi fi latoifi al kitab al aziz lilfiri wa zaabadi, hal. 374-380 pdf.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar