Pesona Malam
Kau berjalan kepadaku. Tidakkah aku sepadan
dengan hatimu
Dengan hati membeku,
Dengan sama merindu,
Sedikit saja kita sama tak mengetahui
“Maaf, sejuta luka itu sempat kau rasa,
Tapi jutaan luka itu masih tetap meresah di
dalam jiwaku
Ketika sandaranmu tak kau beri untukku” katamu
Aku tak berucap, ketika jarimu menempel di
bibirku
Bukankah kita ada di bawah langit yang sama?
Lihatlah aku
Sunyi memperhatikanmu di setiap malam sepi
Kemana saja aku memandang, bayanganmu ilusi
mataku.
Aku beralih membela diri
Kau memelukku dalam mimpi tak nyata
Daun Cinta
Dua kali aku duduk di sini,
Menunggu kehadiran di bawah sinar bulan
Bertanyalah?
Aku menantimu
Daun kering berjatuhan di saat angin
menerbangkannya
Menyampaikan, bahwa sinar bulan yang
temaram-sementara kurasa-
Rumah rahasia yang dulu kau bangun
Menginginkan kita kembali kesana
Malam membikin suasana di jendela jadi syahdu,
Aku ke beranda dan termenung lama,
Kapan kau datang?
Ragukah aku?
Bukan sedikit waktu aku bersamamu
Ombak yang awalnya tenang, lautpun memberontak
Aku tidak pernah berbeda, karena orang lain
begitu?
Aku Melihatmu dan bergumam pada soal hidup yang
lain:
Aku takut membawamu; pada ujungnya kau terpisah
dari asalmu
Ketika senyap jadi dingin,
engkau ucapkan perpisahan
demi perpisahan yang
membuat hati jadi beku
Benarkah itu takdir, Engkau
kembali pergi
Di saat sejuta sakit belum
tuntas terobati
Sia-siakah cintaku?
Udara kian sepi, sementara angin tersepuh rindu,
dan
hatiku jadi tak tentu
Jelaskan sedikit siapa aku
untukmu
Sekali saja, kau
mengintaiku untuk tak pernah pergi
Engkau juga meletakkan
hatimu di sana, di dalam waktu yang sudah berlalu
Tak ingin aku pergi
Pesan yang Hilang
Aku lelah, tanpa tuntas
masih saja kau berhianat
Dengan cintamu sendiri
Lembar kalimat yang engkau
sampaikan untukku
sunyi membakar huruf huruf
menjadi abu
Di dalam suratmu, engkau
bertanya,
“tidakkah kau takut, aku
membawamu sementara
pihakmu menentangku”
Aku duduk di tepi ranjang
penuh pertanyaan,
Sambil menatap bulan yang
tak kunjung menyinar
mengambil kertas dan
menggambar hatiku yang runtuh dengan kata-kata:
Aku merindu sajak sunyi di
kedalaman malam,
Tapi bukan melepaskan,
tanpa seuntai puisi
merelamu pergi,
Hanya bisikkan kesenderian
untuk ku sampaikan padamu
Karena engkau adalah
harapan untuk sekedar menikmati
takdir cinta
Kehadiranmu yang sungguh
tak bisa ku rela
Ketika nyatanya kau bersama
yang lain
Rahasia Langit
Kita di tempat berbeda,
Dengan sebuah rahasia
rindu,
Sajak kebersamaan kita
bertanya,
Untuk sekedar masa lau yang
di tenggelamkan senja
Engkau merajut keping hati
yang sempat rapuh
Membawanya kepadaku
Memejamkan mata tanpa
berkedip
serah pada Takdir-Nya
Entah, kapan rahasia langit
akan samapai
Pada bumi hati kita
by: Baiq Wahyu Diniyati