Minggu, 22 September 2019

kumpulan puisi indah


Pesona Malam
Kau berjalan kepadaku. Tidakkah aku sepadan dengan hatimu
Dengan hati membeku,
Dengan sama merindu,
Sedikit saja kita sama tak mengetahui

“Maaf, sejuta luka itu sempat kau rasa,
Tapi jutaan luka itu masih tetap meresah di dalam jiwaku
Ketika sandaranmu tak kau beri untukku” katamu

Aku tak berucap, ketika jarimu menempel di bibirku
Bukankah kita ada di bawah langit yang sama? Lihatlah aku
Sunyi memperhatikanmu di setiap malam sepi
Kemana saja aku memandang, bayanganmu ilusi mataku.
Aku beralih membela diri
Kau memelukku dalam mimpi tak nyata

Daun Cinta
Dua kali aku duduk di sini,
Menunggu kehadiran di bawah sinar bulan
Bertanyalah?
Aku menantimu

Daun kering berjatuhan di saat angin menerbangkannya
Menyampaikan, bahwa sinar bulan yang temaram-sementara kurasa-
Rumah rahasia yang dulu kau bangun
Menginginkan kita kembali kesana
Malam membikin suasana di jendela jadi syahdu,
Aku ke beranda dan termenung lama,
Kapan kau datang?
Ragukah aku?
Bukan sedikit waktu aku bersamamu
Ombak yang awalnya tenang, lautpun memberontak
Aku tidak pernah berbeda, karena orang lain begitu?
Aku Melihatmu dan bergumam pada soal hidup yang lain:
Aku takut membawamu; pada ujungnya kau terpisah dari asalmu

Ketika senyap jadi dingin, engkau ucapkan perpisahan
demi perpisahan yang membuat hati jadi beku

Benarkah itu takdir, Engkau kembali pergi
Di saat sejuta sakit belum tuntas terobati

Sia-siakah cintaku?
Udara kian sepi, sementara angin tersepuh rindu, dan
hatiku jadi tak tentu

Jelaskan sedikit siapa aku untukmu

Sekali saja, kau mengintaiku untuk tak pernah pergi
Engkau juga meletakkan hatimu di sana, di dalam waktu yang sudah berlalu
Tak ingin aku pergi

Pesan yang Hilang

Aku lelah, tanpa tuntas masih saja kau berhianat
Dengan cintamu sendiri
Lembar kalimat yang engkau sampaikan untukku
sunyi membakar huruf huruf menjadi abu
Di dalam suratmu, engkau bertanya,
“tidakkah kau takut, aku membawamu sementara
pihakmu menentangku”
Aku duduk di tepi ranjang penuh pertanyaan,
Sambil menatap bulan yang tak kunjung menyinar
mengambil kertas dan menggambar hatiku yang runtuh dengan kata-kata:
Aku merindu sajak sunyi di kedalaman malam,
Tapi bukan melepaskan, tanpa seuntai puisi
merelamu pergi,

Hanya bisikkan kesenderian untuk ku sampaikan padamu

Karena engkau adalah harapan untuk sekedar menikmati
takdir cinta

Kehadiranmu yang sungguh tak bisa ku rela
Ketika nyatanya kau bersama yang lain


Rahasia Langit

Kita di tempat berbeda,
Dengan sebuah rahasia rindu,

Sajak kebersamaan kita bertanya,
Untuk sekedar masa lau yang di tenggelamkan senja

Engkau merajut keping hati yang sempat rapuh
Membawanya kepadaku
Memejamkan mata tanpa berkedip
serah pada Takdir-Nya

Entah, kapan rahasia langit akan samapai
Pada bumi hati kita


by: Baiq Wahyu Diniyati


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan

 Perempuan Aku tidak akan menjabarkan siapa makhluk ini Pada hakikatnya ini adalah aku Lalu, Penjagaan terhadap predikat sebagai perempuan a...