Dialog ku dengan Angin
Hari ini, aku mengetuk
daun pintu rumahmu
Tak ada satupun yang
menjawab, daun pintu terlihat berdebu
Angin menyambutku,
menyuruhku untuk menunggu
Sabar adalah do’a
bisiknya tanpa ragu
Aku menunggu
pilu
Celah itu
masih tertutup, seperti menyembunyikan malu
Ataukah kamu
berada di balik pintu?
Angin kembali menyapaku
Menyapu bulu tengkukku,
mengajak kembali ke masa lalu
Dulu,
Kita bercita untuk
membangun danau
di depan halaman rumput
berwarna hijau
Dan aku menunggumu di
atas perahu
Berlayar diiringi dengan
kicaun burung menjemput rindu
Dan Tuhan mengambilmu,
Memintaku untuk ikhlas
melepaskanmu
Hujan di Laut
Hari ini, Hujan
mengajakku bercengkrama
Ia bercerita tentang air
yang ia bawa melewati sungai
Tentang muara yang
berakhir pada aliran laut
Lalu bertanya bagaimana
denganku?
Sajak sajak aku tulis saat hujan turun
Lalu ku biarkan ia dibawa arus sungaimu
Lalu bermuara di laut
Untuk apa?
Sajak itu akan menari
bersama ombak , sambil menunggu hujan kembali
Dan ketika hujan turun,
sajak itu akan menyelami
laut yang mengelilingi seluruh dunia
Dan hujan mengamini do’a
penulis sajak
Puisi-puisi Malam
Sinar rembulan menyinari
puisi puisi di altar malam
Bercahaya disetiap
tulisan yang merangkai kebesaran alam
Di setiap kata yang mulai
terbungkus cahaya
Membuat pohon pohon
memuji kebesaranNya
Beberapa manusia terlihat memakai jubah putih
Melewati tidur panjang yang membuat lengah
Menulis puisi dengan sajak do’a tanpa lelah
Di tengah malam yang
hening
puisi puisi itu
berterbangan dengan tenang
menunggu langit membawa
kebahagiaan
Dan sinar rembulan itu,
kembali menyinari puisi puisi malam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar