Minggu, 22 September 2019

kumpulan puisi


Dialog ku dengan Angin
Hari ini, aku mengetuk daun pintu rumahmu
Tak ada satupun yang menjawab, daun pintu terlihat berdebu
Angin menyambutku, menyuruhku untuk menunggu
Sabar adalah do’a bisiknya tanpa ragu
Aku menunggu pilu
Celah itu masih tertutup, seperti menyembunyikan malu
Ataukah kamu berada di balik pintu?
Angin kembali menyapaku
Menyapu bulu tengkukku, mengajak kembali ke masa lalu
Dulu,
Kita bercita untuk membangun danau
di depan halaman rumput berwarna hijau
Dan aku menunggumu di atas perahu
Berlayar diiringi dengan kicaun burung menjemput rindu
Dan Tuhan mengambilmu,
Memintaku untuk ikhlas melepaskanmu


Hujan di Laut
Hari ini, Hujan mengajakku bercengkrama
Ia bercerita tentang air yang ia bawa melewati sungai
Tentang muara yang berakhir pada aliran laut
Lalu bertanya bagaimana denganku?
            Sajak sajak aku tulis saat hujan turun
            Lalu ku biarkan ia dibawa arus sungaimu
            Lalu bermuara di laut
Untuk apa?
Sajak itu akan menari bersama ombak , sambil menunggu hujan kembali
Dan ketika hujan turun,
sajak itu akan menyelami laut yang mengelilingi seluruh dunia
Dan hujan mengamini do’a penulis sajak



Puisi-puisi Malam
Sinar rembulan menyinari puisi puisi di altar malam
Bercahaya disetiap tulisan yang merangkai kebesaran alam
Di setiap kata yang mulai terbungkus cahaya
Membuat pohon pohon memuji kebesaranNya
            Beberapa manusia terlihat memakai jubah putih
            Melewati tidur panjang yang membuat lengah
            Menulis puisi dengan sajak do’a tanpa lelah
Di tengah malam yang hening
puisi puisi itu berterbangan dengan tenang
menunggu langit membawa kebahagiaan
Dan sinar rembulan itu, kembali menyinari puisi puisi malam


                                                               By; Baiq Wahyu Diniyati


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perempuan

 Perempuan Aku tidak akan menjabarkan siapa makhluk ini Pada hakikatnya ini adalah aku Lalu, Penjagaan terhadap predikat sebagai perempuan a...